Minggu, 17 November 2013

BANK SOAL UKDI INTERNA 2013

BAB I
PENDAHULUAN


1.1.Latar Belakang
                       
            Fraktur pada pelvis terjadi akibat trauma tumpul dan berhubungan dengan
angka mortalitas antara 6% sampai 50%. Walaupun hanya terjadi pada 5% trauma, penderita biasanya mempunyai angka ISS (injury severity score) yang tinggi dan sering juga terdapat trauma mayor di organ lain, karena kekuatan yang dibutuhkan untuk terjadinya fraktur pelvis cukup signifikan. Sebagai contoh, insidensi robekan aorta thoracalis meningkat secara signifikan pada pasien dengan fraktur pelvis terutama tipe AP kompresi.
Pada pasien dengan trauma pelvis dapat terjadi hemodinamik yang tidak stabil, dan dibutuhkan tim dari berbagai disiplin ilmu. Status hemodinamik awal pada pasien dengan fraktur pelvis adalah faktor prediksi utama yang dihubungkan dengan kematian. Fangio P,et al (2005) mempublikasikan pada penelitiannya bahwa angka kematian pada pasien dengan hemodinamik stabil adalah 3,4% yang dibandingkan dengan yang hemodinamik tidak stabil adalah sebesar 42%.
Karena trauma multipel biasanya terjadi pada pasien dengan fraktur pelvis,
hipotensi yang terjadi belum tentu berasal dari fraktur pelvis yang terjadi. Walaupun demikian, pada pasien fraktur pelvis yang meninggal, perdarahan pelvis terjadi pada 50% pasien yang meninggal. Pasien dengan fraktur pelvis mempunyai 4 daerah potensial perdarahan hebat, yaitu : Permukaan tulang yang fraktur, trauma pada arteri di pelvis, trauma pada plexus venosus pelvis, sumber dari luar pelvis.
            Diagnosa fraktur pelvis memerlukan pemeriksaan klinis dan radiolologi yang teliti, terutama pada penderita yang tidak sadar agar diperiksa secara menyeluruh.
            Dalam penanganan fraktur pelvis, selain penanganan fraktur, juga penanganan untuk komplikasinya yang menyertainya yang dapat berupa perdarahan besar, ruptur kandung kemih, atau cedera uretra.

1.2.Ruang Lingkup Pembahasan

Pada kesempatan kali ini penulis berusaha mengulas mengenai gambaran radiologi pada fraktur pelvis. Hal – hal yang akan dibahas dalam referat ini meliputi anatomi pelvis, definisi fraktur pelvis, klasifikasi fraktur pelvis serta gambaran radiologi oada fraktur pelvis.



























BAB II
ANATOMI  PELVIS

2.1 Anatomi pelvis
Hubungan antara tulang pelvis dan vaskularisasinya menjelaskan mengapa sering terjadi perdarahan pada fraktur pelvis.

a.    Tulang dan ligament
Tulang pelvis adalah struktur seperti cincin yang terdiri dari 3 tulang yang bersatu yaitu 1 tulang sacrum dan 2 tulang innominata. Tiap tulang inominata terbentuk dari 3 tulang, yaitu ilium, ischium, dan pubis. Tulang inominata bergabung dengan sacrum di posterior pada 2 sacroiliac (SI) joint. Pada daerah anterior bergabung pada simfisis pubis. Tanpa adanya ligamentum pada struktur ini, cincin pelvis tidak akan mencapai stabilitasnya. Aspek posterior pelvis distabilisasi oleh ligamentum yang sangat kuat.
untitled.bmp3.bmp









Gambar 2.1 Sakroiliaka ligament

Ligamentum ini menghubungkan sacrum dengan tulang inominata. Stabilitas yang diberikan SI ligamen posterior harus dapat menahan kekuatan weight-bearing yang ditransmisikan melalui SI ligamen ke ekstremitas bawah. Simfisis berfungsi sebagai penopang saat weight-bearing untuk mempertahankan struktur cincin pelvis. Ligamentum posterior SI dibagi menjadi komponen yang pendek dan panjang. Komponen pendek berjalan oblique dari posterior sacrum ke spina iliaca posterior superior dan posterior inferior. Komponen panjang berjalan longitudinal dari aspek lateral sacrum ke spina iliaca posterior superior dan bergabung dengan ligamentum sacrotuberous.

















b.   Otot-otot
Pelvis yang intak membentuk 2 area anatomis mayor. False pelvis dan true pelvis dipisahkan oleh pinggir pelvis, atau garis iliopectineal yang berjalan dari promontorium sacralis sepanjang perbatasan antara ilium dan ischium ke ramus pubis. Tidak ada struktur mayor yang melewati pinggiran ini. Diatasnya false pelvis (greater pelvis) berisi ala sacral dan iliac wings, membentuk bagian dari rongga abdomen. Bagian dalam false pelvis dilingkupi oleh otot iliopsoas. True pelvis (lesser pelvis) terletak dibawah pinggir pelvis.
Otot piriformis berorigin dari aspek lateral dari sacrum dan adalah penanda untuk menemukan nervus sciaticus. Biasanya, nervus sciatic meninggalkan pelvis diatas otot piriformis dan memasuki greater sciatic notch. Kadang-kadang sisi peroneal berjalan diatas dan melewati piriformis. Dasar dari true pelvis terdiri dari coccyx, otot coccygeal dan levator ani, urethra, genitalia dan rectum. Semuanya melewati struktur ini.
c.    Pleksus saraf
Plexus lumbosacralcoccygeus dibentuk oleh rami anterior T12 s/d S4 (fig 2), yang paling penting adalah L4 s/d S1. Syaraf lumbalis L4 dan L5 memasuki true pelvis dari false pelvis, dimana nervus sacral adalah bagian dari true pelvis. Syaraf L4 berjalan antara L5 dan SI joint dan bergabung dengan L5 untuk membentuk truncus lumbosacralis pada promontorium sacralis (12 mm dari garis joint). Syaraf L5 berjarak 2 cm dari SI joint dan keluar dari foramen intervertebralis. Syaraf sacralis melewati foramen sacralis dan bergabung dengan pleksusnya. Beberapa cabang menuju otot mayor dalam pelvis. Nervus glutealis superior dan inferior berjalan ventral ke piriformis dan memasuki pelvis melalui greater sciatic notch. Nervus pudendalis (S2,3 dan 4) mempersyarafi otot sfingter pelvis dan dapat terkena pada fraktur pelvis.
.  
Gambar 2.2 Pleksus nervus pelvis

            
Gambar 2.3 Hubungan antara kerusakan nervus pudendal dengan fraktur pelvis

d.   Suplai darah arteri
Suplai darah major pada pelvis didapat dari a. hipogastrica (cabang iliaca interna). Arteri hipogastric terdapat pada level SI joint.
Gambar 2.4 Suplai arteri pelvis
                           
Gambar 2.5 Pleksus vena pelvis

Arteri yang berasal dari hipogastric, awalnya berjalan bersama-sama sampai ke lengkungan posterior pelvis dan saling beranastomosis, membentuk hubungan kolateral. A glutealis superior adalah cabang terbesar. Karena berasal dari lengkungan kanan dari a hipogastrica dan mempunyai proteksi otot yang sedikit, maka arteri ini mudah sekali terkena pada fraktur dari lengkungan pelvis posterior. Cabang obturator dan pudendal interna paling sering terkena pada fraktur ramus pubis.

e.    Drainase vena
Sistem drainase vena pada pelvis juga mepunyai cabang kolateral yang sangat banyak, dengan tanpa valve sehingga dapat terjadi aliran balik. Vena terbentuk dengan plexus yang besar yang terdapat pada dinding pelvis. Karena dinding vena ini relatif tipis, vena ini tidak dapat berkontraksi sebagai respon terhadap cedera. Plexus venosus pelvis bersifat ekstensif, sehingga dapat memberikan perdarahan yang signifikan bila terjadi disrupsi, walaupun tekanan vena normal.

2.2 Fraktur Pelvis
a.       Defenisi fraktur pelvis
Patah tulang panggul adalah putusnya kontinuitas tulang, tulang rawan epifisis atau tulang rawan sendi dan gangguan struktur tulang dari pelvis. Pada orang tua penyebab paling umum adalah jatuh dari posisi berdiri. Namun, fraktur yang berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas terbesar melibatkan pasukan yang signifikan misalnya dari kecelakaan kendaraan bermotor atau jatuh dari ketinggian.

b.      Mekanisme trauma pada cincin pelvis
Terdapat 3 mekanisme cedera mayor menurut Young and Burgess, yaitu :
1.      Lateral posterior compression (LC)
2.      Anterior posterior compression (APC)
3.      Vertical shear (VS)
Pelvic Class Burgess 1.tif                                     0001E499Macintosh HD                   ABA78158:
Gambar 1. Mekanisme Terjadinya Fraktur Pelvis

1.      Cedera kompresi lateral.
Tabrakan dari arah lateral dapat mengakibatkan berbagai macam cedera, tergantung dari kekuatan tabrakan yang terjadi.
·            Tipe AI (impaksi sakral dengan fraktur ramus pubis sisi yang sama (ipsilateral)—cedera yang stabil.
·            Tipe AII (impaksi sakral dengan fraktur iliac wing ipsilateral atau terbukanya SI joint posterior dan fraktur ramus pubis)
·            Tipe AIII (sama dengan tipe AII dengan tambahan cedera rotasional eksterna dengan SI joint kontralateral dan fraktur ramus pubi
4.bmp







Gambar 2.  Mekanisme fraktur Pelvis Kompresi Lateral

2.            Kompresi anteroposterior
Yang dihasilkan oleh gaya dari anterior ke posterior yang mengakibatkan terbukanya pelvis.
·      Tipe BI (diastasis simfisis <2,5 cm dengan sisi posterior yang intak) cedera yang stabil.
·      Tipe BII (Diastasis simfisis >2,5 cm dengan terbukanya SI joint tapi tidak terdapat instabilitas vertikal).
·      Tipe BIII(Disrupsi komplit dari anterior dan posterior pelvis dengan kemungkinan adanya pergeseran vertikal).


6.bmp
 






Gambar. Mekanisme fraktur Pelvis Kompresi Anterior/Posterior











            





                        
                       








Tidak ada komentar:

Posting Komentar