Jumat, 19 Oktober 2012

SMONG DAN IE BEUNA : KONSEP KEARIFAN LOKAL ACEH SEBAGAI MODEL MITIGASI TSUNAMI EARLY WARNING PEOPLE SYSTEM (TEWPS) SMONG DAN IE BEUNA SEBAGAI MODEL MITIGASI “FIVE IN ONE” DALAM InaTEWS



SMONG DAN IE BEUNA : KONSEP KEARIFAN LOKAL ACEH SEBAGAI MODEL MITIGASI TSUNAMI EARLY WARNING PEOPLE SYSTEM (TEWPS)
SMONG DAN IE BEUNA SEBAGAI MODEL  MITIGASI “FIVE IN ONE”  DALAM 
  InaTEWS

Oleh. Fazil Amris
(Fakultas Kedokteran Unsyiah-Dokter Muda Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel abidin, Banda Aceh)
Alamat: Kantor BEM Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh 23111
Email:Fariz.al89fk@gmail.com, Telp:+628560020010

Indonesia merupakan negara yang sarat akan potensi bencana yang disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik karena berada didaerah pertemuan 3 (tiga) lempeng benua yaitu lempeng Indo-Australia dibagian selatan, lempeng Euro-Asia dibagian utara dan lempeng pasifik dibagian timur (mediteran ring of fire) pada bagian barat, dan pacific ring of fire pada bagian timur merupakan ujung api pasifik.
Kejadian bencana gempa dan tsunami yang melanda Provinsi Aceh dan Nias akhir tahun 2004 lalu, telah menyisakan kenangan pahit dan keprihatinan yang mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia. Bentuk bencana ini memang bukan merupakan sebuah kejadian bencana yang sifatnya baru di Indonesia, namun banyaknya korban jiwa serta besarnya dampak yang timbul dari bencana ini memang begitu luar biasa. Gempa bumi yang terjadi di Samudera Hindia di lepas pantai barat laut Pulau Sumatera merupakan gempa nomor 3 (tiga) terkuat yang pernah terjadi di muka bumi ini yaitu 8,9 skala ricther, setelah urutan pertama ditempati Chile pada Mei 1960 dengan kekuatan gempa mencapai 9,5 ricther menguncang daerahnya dan memakan korban sebanyak 1.655 jiwa manusia, dan yang kedua ditempati oleh Alaska pada Maret 1964 dengan kekuatan gempa 9,2 ricther dan memakan korban jiwa sebanyak 118 jiwa manusia, namun hal yang berbeda terjadi di Provinsi Aceh ini kota dengan julukan “serambi mekkah, tanoh  rencong” gempa yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004  tersebut merupakan satu-satunya gempa yang paling mematikan yang pernah tercatat dalam sejarah manusia dan menewaskan 230.000 jiwa terbunuh serta menyebabkan gelombang tsunami sehingga memporakporandakan sebagian besar wilayah Aceh dan Nias, sebagian wilayah Thailand, Sri Lanka, Maladewa (Maldives), Bangladesh, Burma, bahkan sampai ke pantai Somalia di Afrika Timur.
Gempa bumi secara ilmiah merupakan peristiwa pelepasan energi yang menyebabkan pergeseran pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba (BNPB, 2011), sedangkan Tsunami adalah gelombang pasang yang timbul akibat terjadinya gempa bumi di laut, letusan gunung berapi bawah laut atau longsoran di laut. Namun tidak semua fenomena tersebut dapat memicu terjadinya tsunami (BNPB, 2008). Tsunami terjadi bila adanya perubahan bentuk yang berupa pengangkatan atau penurunan blok batuan yang terjadi secara tiba-tiba dalam skala yang luas di bawah laut. Gelombang tsunami bergerak sangat cepat, dan ternyata bisa mencapai kecepatan  600-800 km per jam, dengan tinggi gelombang dapat mencapai 20 m sehingga gempa dan gelombang tsunami yang terjadi di provinsi paling barat ini ternyata meporakporandakan sebagian besar wilayah pesisir Provinsi Aceh dan Nias, menelan banyak korban jiwa, menghancurkan sebagian besar infrastruktur, permukiman, sarana sosial seperti bangunan-bangunan pendidikan, kesehatan, keamanan, sosial, dan ekonomi publik, dan bangunan-bangunan pemerintah. Bencana ini juga telah menghancurkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Aceh dan Nias, termasuk kondisi psikologis, dan tingkat kesejahteraan masyarakat secara signifikan.
Indonesia berada dalam 2 (dua)  cincin api gempa, yaitu mediteran ring of fire pada bagian barat dilalui oleh pegunungan mediterania dan pacific ring of fire pada bagian timur merupakan ujung api pasifik. Di samping itu Indonesia memiliki garis pantai yang panjangnya mencapai 81.000 km. Garis pantai Indonesia merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada (Anantasena, 2007).
Berdasarkan data tersebut, tsunami merupakan jenis bencana alam yang jarang terjadi namun sekali terjadi akan menimbulkan kerugian harta dan nyawa yang cukup banyak. Besarnya angka jumlah korban meninggal dunia tersebut turut dipengaruhi oleh perilaku masyarakat setempat. Tsunami terjadi beberapa menit setelah gempa. Pada kejadian tsunami aceh ketinggian ombak tsunami (run-up) mencapai 34 meter (Siswo, 2010). Di dataran rendah Meulaboh air laut masuk kedaratan menghantam perumahan penduduk. Kedahsyatan yang demikian inilah yang mengakibatkan tsunami banyak menimbulkan korban jiwa khususnya mereka yang tidak jauh dari pantai dan lalai menyelamatkan diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar