SMONG DAN IE BEUNA : KONSEP
KEARIFAN LOKAL ACEH SEBAGAI MODEL MITIGASI TSUNAMI EARLY WARNING PEOPLE SYSTEM
(TEWPS)
SMONG DAN IE BEUNA SEBAGAI
MODEL MITIGASI “FIVE IN ONE” DALAM
InaTEWS
Oleh. Fazil Amris
(Fakultas
Kedokteran Unsyiah-Dokter Muda Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel abidin,
Banda Aceh)
Alamat: Kantor
BEM Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh 23111
Email:Fariz.al89fk@gmail.com, Telp:+628560020010
Indonesia merupakan negara yang sarat
akan potensi bencana yang disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik karena berada didaerah pertemuan 3 (tiga) lempeng benua yaitu
lempeng Indo-Australia dibagian selatan, lempeng Euro-Asia dibagian utara dan
lempeng pasifik dibagian timur (mediteran ring
of fire) pada bagian barat, dan pacific ring of fire pada bagian timur merupakan ujung api pasifik.
Kejadian
bencana gempa dan tsunami yang melanda Provinsi Aceh dan Nias akhir tahun 2004
lalu, telah menyisakan kenangan pahit dan keprihatinan yang mendalam bagi
seluruh masyarakat Indonesia. Bentuk bencana ini memang bukan merupakan sebuah
kejadian bencana yang sifatnya baru di Indonesia, namun banyaknya korban jiwa
serta besarnya dampak yang timbul dari bencana ini memang begitu luar biasa. Gempa
bumi yang terjadi di Samudera Hindia di lepas pantai barat laut Pulau Sumatera
merupakan gempa nomor 3 (tiga) terkuat yang pernah terjadi di muka bumi ini
yaitu 8,9 skala ricther, setelah urutan pertama ditempati Chile pada Mei 1960
dengan kekuatan gempa mencapai 9,5 ricther menguncang daerahnya dan memakan
korban sebanyak 1.655 jiwa manusia, dan yang kedua ditempati oleh Alaska pada
Maret 1964 dengan kekuatan gempa 9,2 ricther dan memakan korban jiwa sebanyak 118
jiwa manusia, namun hal yang berbeda terjadi di Provinsi Aceh ini kota dengan julukan
“serambi mekkah, tanoh rencong” gempa
yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 tersebut merupakan satu-satunya gempa yang
paling mematikan yang pernah tercatat dalam sejarah manusia dan menewaskan
230.000 jiwa terbunuh serta menyebabkan gelombang tsunami sehingga memporakporandakan
sebagian besar wilayah Aceh dan Nias, sebagian wilayah Thailand, Sri Lanka,
Maladewa (Maldives), Bangladesh, Burma, bahkan sampai ke pantai Somalia di
Afrika Timur.
Gempa bumi secara ilmiah merupakan
peristiwa pelepasan energi yang menyebabkan pergeseran pada bagian dalam bumi
secara tiba-tiba (BNPB, 2011), sedangkan Tsunami adalah gelombang pasang yang
timbul akibat terjadinya gempa bumi di laut, letusan gunung berapi bawah laut
atau longsoran di laut. Namun tidak semua fenomena tersebut dapat memicu
terjadinya tsunami (BNPB, 2008). Tsunami terjadi bila adanya perubahan bentuk yang berupa pengangkatan atau
penurunan blok batuan yang terjadi secara tiba-tiba dalam skala yang luas di
bawah laut. Gelombang tsunami bergerak sangat cepat, dan ternyata bisa mencapai
kecepatan 600-800 km per jam, dengan
tinggi gelombang dapat mencapai 20 m sehingga gempa dan gelombang tsunami yang
terjadi di provinsi paling barat ini ternyata meporakporandakan sebagian besar
wilayah pesisir Provinsi Aceh dan Nias, menelan banyak korban jiwa,
menghancurkan sebagian besar infrastruktur, permukiman, sarana sosial seperti
bangunan-bangunan pendidikan, kesehatan, keamanan, sosial, dan ekonomi publik,
dan bangunan-bangunan pemerintah. Bencana ini juga telah menghancurkan kondisi
sosial dan ekonomi masyarakat Aceh dan Nias, termasuk kondisi psikologis, dan
tingkat kesejahteraan masyarakat secara signifikan.
Indonesia
berada dalam 2 (dua) cincin
api gempa, yaitu mediteran
ring of fire pada bagian barat dilalui
oleh pegunungan mediterania dan pacific
ring of fire pada bagian
timur merupakan ujung api pasifik. Di
samping itu Indonesia memiliki garis pantai yang panjangnya mencapai 81.000 km.
Garis pantai Indonesia merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah
Kanada (Anantasena, 2007).
Berdasarkan
data tersebut, tsunami merupakan jenis bencana alam yang jarang terjadi namun
sekali terjadi akan menimbulkan kerugian harta dan nyawa yang cukup banyak.
Besarnya angka jumlah korban meninggal dunia tersebut turut dipengaruhi oleh
perilaku masyarakat setempat. Tsunami terjadi beberapa menit setelah gempa.
Pada kejadian tsunami aceh ketinggian ombak tsunami (run-up) mencapai 34
meter (Siswo, 2010). Di dataran rendah Meulaboh air laut masuk kedaratan menghantam
perumahan penduduk. Kedahsyatan yang demikian inilah yang mengakibatkan tsunami
banyak menimbulkan korban jiwa khususnya mereka yang tidak jauh dari pantai dan
lalai menyelamatkan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar